Selasa, 05 Januari 2010

Implementasi pelayanan telematika


a. Layanan Telematika dibidang Informasi

Penggunaan teknologi telematika dan aliran informasi harus selalu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk pemberantasan kemiksinan dan kesenjangan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, teknologi telematika juga harus diarahkan untuk menjembatani kesenjangan politik dan budaya serta meningkatkan keharmonisan di kalangan masyarakat

Wartel dan Warnet memainkan peranan penting dalam masyarakat. Warung Telekomunikasi dan Warung Internet ini secara berkelanjutan memperluas jangkauan pelayanan telepon dan internet, baik di daerah kota maupun desa, bagi pelanggan yang tidak memiliki akses sendiri di tempat tinggal atau di tempat kerjanya. Oleh karena itu langkah-langkah lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan jangkauan dan kandungan informasi pelayanan publik, memperluas pelayanan kesehatan dan pendidikan, mengembangkan sentra-sentra pelayanan masyarakat perkotaan dan pedesaan, serta menyediakan layanan “e-commerce” bagi usaha kecil dan menengah, sangat diperlukan. Dengan demikian akan terbentuk Balai-balai Informasi. Untuk melayani lokasi-lokasi yang tidak terjangkau oleh masyarakat.

b. Layanan Telematika di bidang Keamanan

Layanan telemaatika juga dimanfaatkan pada sektor – sektor keamanan seperti yang sudah dijalankan oleh Polda Jatim yang memanfaatkan TI dalam rangka meningkatkan pelayanan keamanan terhadap masyarakat. Kira-kira sejak 2007 lalu, membuka layanan pengaduan atau laporan dari masyarakat melalui SMS dengan kode akses 1120. Selain itu juga telah dilaksanakan sistem online untuk pelayanan di bidang Lalu Lintas. Polda Jatim memiliki website di http://www.jatim.polri.go.id, untuk bisa melayani masyarakat melalui internet. Hingga kini masih terus dikembangkan agar dapat secara maksimal melayani masyarakat. Bahkan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polda Jatim sudah banyak memanfaatkan fasilitas website ini dan sangat bermanfaat dalam menangani kasus-kasus yang sedang terjadi dan lebih mudah dalam memantau setiap perkembangan kasus atau laporan, baik laporan dari masyarakat maupun laporan internal untuk Polda Jatim sendiri. Bukan hanya penanganan kasus kejahatan semata, tapi juga termasuk laporan terkait lalu lintas, intelijen, tindak pidana ringan (tipiring) di masyarakat, pengamanan untuk pemilu, termasuk laporan bencana alam. Masyarakat juga bisa menyampaikan uneg-uneg atau opini mengenai perilaku dan layanan dari aparat kepolisian melalui email atau website . Semoga saja daerah – daerah lainnya yang tersebar diseluruh Indonesia dapat memanfaatkan teknologi telematika seperti halnya Polda Jatim agar terciptanya negara Indonesia yang aman serta disiplin.
Indonesia perlu menciptakan suatu lingkungan legislasi dan peraturan perundang-undangan.Upaya ini mencakup perumusan produk-produk hukum baru di bidang telematika (cyber law) yang mengatur keabsahan dokumen elektronik, tanda tangan digital, pembayaran secara elektronik, otoritas sertifikasi, kerahasiaan, dan keamanan pemakai layanan pemakai layanan jaringan informasi. Di samping itu, diperlukan pula penyesuaian berbagai peraturan perundang-undangan yang telah ada, seperti mengatur HKI, perpajakan dan bea cukai, persaingan usaha, perlindungan konsumen, tindakan pidana, dan penyelesaian sengketa. Pembaruan perauran perundang-udangan tersebut dibutuhkan untuk memberikan arah yang jelas, transparan, objektif, tidak diskriminatif, proporsional, fleksibel, serta selaras dengan dunia internasional dan tidak bias pada teknologi tertentu. Pembaruan itu juga diperlukan untuk membentuk ketahanan dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dan kejahatan baru yang timbul sejalan dengan perkembangan telematika.

c. Layanan Context Aware dan Event-Based
Di dalam ilmu komputer menyatakan bahwa perangkat komputer memiliki kepekaan dan dapat bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya berdasarkan informasi dan aturan-aturan tertentu yang tersimpan di dalam perangkat. Gagasan inilah yang diperkenalkan oleh Schilit pada tahun 1994 dengan istilah context-awareness.
context-awareness adalah kemampuan layanan network untuk mengetahui berbagai konteks, yaitu kumpulan parameter yang relevan dari pengguna (user) dan penggunaan network itu, serta memberikan layanan yang sesuai dengan parameter-parameter itu. Beberapa konteks yang dapat digunakan antara lain lokasi user, data dasar user, berbagai preferensi user, jenis dan kemampuan terminal yang digunakan user. Sebagai contoh : ketika seorang user sedang mengadakan rapat, maka context-aware mobile phone yang dimiliki user akan langsung menyimpulkan bahwa user sedang mengadakan rapat dan akan menolak seluruh panggilan telepon yang tidak penting. Dan untuk saat ini, konteks location awareness dan activity recognition yang merupakan bagian dari context-awareness menjadi pembahasan utama di bidang penelitian ilmu komputer.

d. layanan pada masyarakat

Sekedar untuk diketahui, Kota Denpasar yang mempunyai Luas Wilayah 12.778 Ha dan jumlah Penduduk sebanyak 583.600 jiwa ini mempunyai misi;Menumbuhkembangkan jati diri masyarakat Kota Denpasar berdasarkan Kebudayaan Bali, pemberdayaan masyarakat dilandasi dengan Kebudayaan Bali dan kearifan lokal, mewujudkan kepemerintahan yang baik (Good Governance) melalui penegakan supremasi hukum (Law Enforcement), membangun pelayanan publik untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat (Welfare Society), mempercepat pertumbuhan dan memperkuat ketahanan ekonomi melalui Sistem Ekonomi Kerakyatan (Economic Stability) Pemerintah Daerah Denpasar sendiri telah memanfaatkan teknologi informasi dengan baik di perbagai sector pelayanan diantaranya; Pemanfaatan teknologi informasi dalam menunjang pendidikan guna meningkatkan mutu pendidikan melalui CyberSchool. (www.cyberschooldps.net), jaringan on line antar sekolah-sekolah serta terbuka akses internet secara global, pemasaran produk pengrajin secara online berbasis web,penyelenggaraan

penyerahan M-CAP dimaksudkan untuk mewujudkan komitmen bersama dalam menanggulangi kesenjangan digital, serta pengenalan e-literasi warga dalam rangaka pemberdayaan masyarakat untuk menyebarluaskan dan mengimlpelentasikan piranti lunak berbasis open source untuk keperluan pembelajaran, layanan teknologi dan akses informasi maupun transaksi elektronik. Ditandatanganinya MoU tentang M_CAP bertujuan untuk melakukan koordinasi, membangun sinergi dan menjalin kerja sama kemitraan dalam pelaksanaan berbagai program lintas sektoral di bidang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi . Selain acara penyerahan M-CAP, ada serangkaian kegiatan antara lain Workshop pada pagi hari, mengenai program good governance yang di buka oleh Menpan dan pemaparan materi dari KPK.

Tujuan lain adalah agar pengadaan barang dan jasa memiliki dampak langsung bagi pengembangan usaha kecil, produksi dalam negeri, dan menciptakan iklim investasi yang bersahabat bagi semua skala usaha. Lebih lanjut dikatakan, Penyempurnaan sistem layanan public sebaiknya dengan - memperbaiki mekanisme perijinan dan peraturan perijinan One Stop Service.

Menjadi pertanyaan sekarang, apa yang sebaiknya diperbuat untuk memajukan telematika nasional? Berikut ini adalah beberapa usulan fokus kegiatan yang sebaiknya menjadi bagian agenda pembangunan telematika nasional dalam KIB.

Pertama, segera merealisasikan sistem informasi dan database yang terintegrasi untuk kependudukan yang mampu menggabungkan beberapa keperluan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), identitas untuk urusan pajak, keimigrasian dan jaminan sosial. Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, sistem ini dikenal juga dengan Social Security Number (SSN) yang berfungsi untuk identitas penduduk namun menjadi referensi untuk berbagai urusan seperti surat izin mengemudi (SIM), pajak, pasport, jaminan kesehatan dan keperluan pendidikan, termasuk pelanggaran hukum dan lalu lintas.

Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur telematika baik telepon tetap, telepon seluler termasuk fixed wireless, maupun penambahan kecepatan dan bandwidth untuk penyelenggaraan Internet diseluruh wilayah Indonesia. Hal ini hendaklah dilakukan secara lebih serius mengingat infrastruktur selama ini telah menjadi hambatan utama pengembangan telematika, baik di kota besar, kota kecil, maupun perdesaan. Cobalah anda mendatangi beberapa daerah kabupaten atau kota baik di pulau Jawa apalagi diluar Jawa, niscaya akan sangat sulit menemukan Warung Internet. Sementara sambungan Internet melalui jasa layanan yang ditawarkan operator seperti Telkomnet Instan dari rumah atau hotel, kualitasnya masih belum memuaskan.

Selanjutnya, memprioritaskan aplikasi telematika yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kondisi investasi seperti e-banking, e-commerce, e-procurement, maupun berbagai usaha telematika yang dapat memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) maupun kalangan ekonomi lemah. Sebaiknya pula aplikasi yang dipilih diselaraskan dengan kemampuan industri telematika dan konsultansi nasional.

Keempat, meneruskan pelaksanaan program e-government ke tingkat yang lebih tinggi sehingga terjadi kesinambungan program untuk berbagai jenis pelayanan masyarakat di seluruh wilayah nusantara. Pelayanan publik menggunakan jasa telematika seperti yang telah dilaksanakan di Takalar, Kebumen dan beberapa kota lain di Indonesia sangat menunjang pelaksanaan pemerintahan yang bersih dari nuansa KKN.

Kelima, adalah penyusunan Undang-Undang (UU) baru dan penyempurnaan berbagai kebijakan dan regulasi yang terkait dengan telematika. Antara lain adalah penyempurnaan Cetak Biru Telekomunikasi dan UU Telekomunikasi No. 36/1999 yang dirasakan sudah mulai ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat. Penyelesaian Rancangan UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan berbagai UU lain yang dapat mendorong pertumbuhan aplikasi IT sangatlah diharapkan dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Termasuk dalam kerangka regulasi ini adalah mempercepat terlaksananya proses kompetisi yang sebenar-benarnya dalam penyediaan jasa telekomunikasi sehingga dapat memberikan perbaikan kondisi layanan, kemudahan bagi pengguna jasa, serta harga yang ekonomis.

Terakhir, dengan masih terpisahnya pengelolaan telematika dalam KIB membuktikan bahwa telematika masih perlu disosialisasikan secara lebih intensif kepada semua lapisan masyarakat tanpa kecuali. Karena itu program-program yang bertujuan untuk meningkatkan awareness masyarakat dan pemimpin bangsa akan peran telematika dalam perekonomian nasional, regional dan internasional haruslah diutamakan. Program ini kelihatannya sepele dan tidak begitu menarik dilakukan, tapi justru disinilah salah satu kunci keberhasilan pembangunan telematika di sebuah negara berkembang seperti Indonesia.

Sebenarnya keenam fokus kegiatan jangka pendek dan menengah dalam industri telematika di atas bukanlah merupakan program baru. Keenam program tersebut sudah pernah digagas dalam berbagai pertemuan dan sebagian sudah pernah ditindaklanjuti. Sayangnya ketidakseriusan dan ketidaksinambungan program telah menyebabkan terbengkalainya pelaksanaan beberapa kegiatan terkait secara utuh. Disamping keenam fokus di atas, masih ada beberapa hal lain yang tidak bisa diabaikan seperti peningkatan kapasitas (capacity building), penyusunan kurikulum telematika di sekolah-sekolah, penyempurnaan kebijakan tentang Kewajiban Pelayanan Universal (USO), promosi industri telematika, pembukaan kawasan pusat teknologi telematika, serta penyempurnaan badan regulasi independen.

sumber :
http://selivarlena.blogspot.com/2009/12/layanan-telematika.html
http://kolom.pacific.net.id/ind/eddy_satriya/artikel_eddy_satriya/membangun_telematika_dalam_kabinet_baru.html
http://aptel.depkominfo.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=80&Itemid=27

Kamis, 03 Desember 2009

Solider Vs Soliter


ALL BY MYself.........

selama ini bisa jd kita mengenal solitaire sebagai salah satu permainan komputer yang mengasyikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), soliter memiliki arti penyendiri atau sepasang-sepasang, ngggak bekelompok. Di dalam bahasa inggris, solitary berarti melakukan sesuatu sendirian tanpa orang lain.jadi, nggak salah kok kalau orang yang senang melakukan segala sesuatunya sendiri disebut soliter.

walaupun tedengar negatif, menurut Anindita budhi, S.psi dari personal growth kata Soliter sebenarnya bersifat netral tergantung bagaimana kita memaknai dan menempatkannya dalam konteks.

POLA ASUH & PENGALAMAN

Penyebab soliter beragam. sseorang bisa menjadi soliter nggak hanya terbatas karena dia perfeksionis atau nggak mudah percaya pada orang lain. lebih jauh lagi penyebabnya bisa berkaitan erat dengan pola asuh, lingkungan tempat tumbuh dan pengalaman hidup.

Sulit CARI JODOH???

pada dasarnya setiap orang memangmemiliki sikap soliter. tapi porsinya berbeda-beda.Orang yang kurang soliter bisa sangat membutuhkan oranglain dan malah nggak nyaman berlama-lama sendirian. sebaliknya orang yang sangat soliter justru merasakan keberadaan orang lain sebagai gangguan.

Biasanya mereka yang terlalu soliter menjadi pribadi yang egois dang nggak peduli orang lain selama kebutuhannya terpenuhi.kadang, juga nggak terbiasa dengan aturan maon di masyarakat. sikap ini tentu membawa konsekuensi negatif.

Tahu waktu dunks..
sikap soliter tetap diperlukan dalam hidup kita, soalnya saat sendirian justru kita punya waktu 'ekslusif' untuk merenung dan berdialog dengan diri sendiri. akhirnya proses ini dapat membantu seseorang menemukan kedewasaan.lagipula sikap soliter bukan sesuatu yang harus dihilangkan tapi harus dikelola dan diatur.

" sebagai manusia, kita memang bisa tumbuh sendiri. di sisi lain, kita jadi berkembang karena keberadaan orang lain.makanya kesendirian dan keberadaan orang lain merupakan dua sisi yang selalu ada dalam hidup kita.keduanya berjalan beriringan agar seimbang, Anindita".

Tahu ATURAN, Dong!!!!!!


Setiap kali melihat orang yg nggak th sopan, darah kita seperti mendidih...lega rasanya kalau kita sudah menumpahkan kekesalan - biar kapok tuch, orang!

masih ada cara lebih manis dan lebih ampuh bwt si pelanggar etiket menyesal. resapi dech bbrp kalimat bijak tsb..

1. Pakai perasaan

"manners are a sensitive awareness of the feelings of others. if u hv that awareness, u hv good manners, no matter what fork u use. EMILY POST"

2. Hindari kalimat kasar

"treat everyone with politeness, even those who are rude to u- not because they are nice, but because u are. ANONIM"

3. Sok tua

"when u meet your antagonist, do everthing in a mild and agreeable manner. let your courage be as keen, but at the same time as polished, as your sword. RICHARD BRINSLEY SHERIDAN"

4. Diam adalah Emas

" it's not a slam at u when people are rude - it's a slam at the people they've met before. F.SCOTT FITZGERALD"

5. Diri sendiri dulu..

" when a man points a finger at someone else, he should remember that four of his fingers are pointing at himself. LOUIS NIZER"

sumber : www.citacinta.com

Selasa, 01 Desember 2009

Layanan Telematika



Dalam Telematika, ada beberapa layananan yang dapat digunakan. Yang termasuk dalam layanan tersebut adalah layanan dial up untuk browsing internet maupun semua jenis atau macam jaringan yang didasarkan pada sistem telekomunikasi untuk mentransfer ataupun mengirimkan data melalui layanan Internet. Internet sendiri merupakan salah satu layanan yang merupakan contoh dari telematika.

Pelayanan Telematika di Indonesia saat ini, baik dalam pengaturan maupun pelaksanaan mengenai berbagai bidang usaha yang bergerak di sektor Telematika diatur atau dikelola oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika. Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika (singkatan dari DitJen APTEL) adalah salah satu unsur pelaksana tugas dan fungsi Departemen di bidang Aplikasi Telematika yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Telematics Services merupakan sebuah layanan telematika yang mencangkup dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya kesehatan, kepolisian komunikasi dan transportasi.

Berikut ini merupakan uraiannya :

Layanan Telematika di bidang kesehatan :

TeleSCAN merupakan layanan internet untuk riset penyakit kanker, perawatan dan pendidikan di Eropa yang menyediakan interface yang berbasis web untuk menyediakan layanan serta sumberdaya yang berhubungan dengan kanker.

TeleSCAN menyediakan link dan informasi untuk pasien-pasien dan masyarakat umum, untuk professional di bidang kesehatan, riset dan menyediakan fasilitas termasuk informasi dan akses berbasis peta untuk menunjukkan organisasi kanker di Eropa dan juga menyediakan layanan penunjang dalam berbagai bahasa utama di Eropa.

TeleSCAN didirikan pada tahun 1994 bersamaan dengan MARIA project of the EU DGXIII AIM Program.

TeleSCAN berpartner dengan ACTION project Cluster of The DGXIII 4th Framework Program, bekerja sama dengan HORIZON dan MEDICO Projects. TeleScan didesain untuk mendemonstrasikan keuntungan dan kemampuan dari telematika multimedia kepada para Oncologist, sehingga lebih memberdayakan fasilitas Teknologi informasi sebagai salah satu peralatan klinis yang efektif baik untuk petugas klinik dan staff.

Layanan Telematika dalam bidang Kepolisian :

Untuk memudahkan masyarakat dalam mengecek status laporan kasus yang dilaporkannya dengan meng-klik website Polda Metro Jaya di http://www.reskrimum.metro.polri.go.id

Hal yang diunggulkan oleh layanan ini adalah proses Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2H) dengan sistem online ini akan membantu masyarakan mempermudah dan mengecek perkembangan proses penyidikan kasus yang dilaporkan.

Layanan Telematika di Bidang Transportasi :

Salah satu layanan telematika di bidang transportasi di Indonesia adalah Toyota.Toyota melihat peluang ini dengan mengembangkan layanan telematika.Karena layanan ini diharapkan akan menjadi salah satu fasilitas yang disediakan oleh kendaraan di abad 21.Saat ini Toyota telah mencetuskan dua jenis teknologi telematika yang secara bergerak yang dapat diakses melalui telepon seluler, yaitu M-Toyota dan Toyota Navigation.

Selain itu, Toyota juga memiliki layanan navigasi yang menggandeng perusahaan pemetaan Tele Atlas. Informasi dan peta lengkap dengan 13.000 lokasi-lokasi penting, mulai Hotel, Rumah Sakit, hingga dealer Toyota sudah terekam, yang sudah meliputi wilayah Pulau Jawa dan Bali. Dan pada September 2008, layanan peta akan menjangkau Sumatera.Toyota juga mengembangkan perangkat keras dan Graphics User Interface yang didesain secara khusus. Dengan layanan Toyota Genuine Accessories. selain itu Toyota Navigation mempermudah pengguna dengan memberikan update perangkat lunak tanpa dikenai biaya.

Masalah yang Teridentifikasi dalam penyebarab pelayanan telematika

Salah satu masalah yang teridentifikasi untuk mempromosikan pelayanan Telematika adalah struktur organisasi dari industri Telematika. Seperti diketahui, pada awalnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan monopoli dengan mendistorsi kesetimbangan pasar melalui kontrol dan kestabilan harga pelayanan Telematika. Hal ini menimbulkan perkembangan deregulasi di sektor Telematika dan menjadi proritas ekonomi di negara berkembang. Diakibatkan oleh inovasi teknologi yang pesat, perubahan yang signifikan pada struktur harga dan petumbuhan dan keberagaman bisnis Telematika, banyak negara melakukan deregulasi pada tahun delapan puluhan .

Hal ini juga diakibatkan oleh liberalisasi dan pemisahan American Telephone and Telegraph (AT&T) yang juga diiikuti oleh privatisasi dan munculnya kompetisi di Inggris dan Jepang. Kebijakan ini secara perlahan meluas hampir ke semua negara berkembang yang tergabung pada Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Pada tahun sembilan puluhan telah 40 (empat puluh) negara telah selesai, mengembangkan dan menyiapkan reformasi besar-besaran di bidang Telematika dan pada awal tahun 1989 lebih dari setengah perusahaan-perusahaan Telematika di dunia telah dikendalikan swasta.

sumber :

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/layanan-telematika-4/

http://telematikapedesaan.blogdetik.com/2009/07/20/masalah-yang-teridentifikasi-dalam-penyebaran-pelayanan-telematika/

http://www.telescan.nki.nl

http://www.biskom.web.id/

http://www.belitoyota.com/

Kamis, 22 Oktober 2009

Bahasa Indonesia Berubah!!!


Selasa, 9 September 2008 | 22:34 WIB (Sumber : www.kompas.com)

SEMARANG, SELASA--Bahasa Indonesia yang telah menjadi jatidiri bangsa Indonesia telah mengalami banyak perubahan. "Seiring dengan berjalannya peradaban yang terus bergerak menuju arus globalisasi, bahasa Indonesia dihadapkan pada persoalan yang semakin rumit dan kompleks. Dalam hakikatnya sebagai bahasa komunikasi, bahasa Indonesia dituntut untuk bersikap luwes dan terbuka terhadap pengaruh asing." kata Tommi Yuniawan, S.Pd, M.Hum, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Selasa.

Ia menambahkan, dalam kedudukannya sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia harus tetap mampu menunjukkan jatidirinya di tengah-tengah pergaulan antarbangsa di dunia.

Akan tetapi saat ini bahasa Indonesia telah mengalami banyak perubahan, terutama dalam wacana lisan. Banyak para penutur yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan cenderung bebas, katanya.

Keluhan tentang rendahnya mutu pemakaian bahasa Indonesia sudah lama terdengar. Ironisnya, belum juga ada kemauan baik untuk menggunakan sekaligus meningkatkan mutu berbahasa. "Tidak sedikit kita mendengar bahasa yang digunakan oleh para pejabat cenderung rancu dan pemilihan kosakata nya juga payah sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam penafsiran," katanya menjelaskan.

Yang lebih mencemaskan, katanya, "kita masih terlalu mengagungkan nilai-nilai modern sehingga merasa lebih terhormat dan terpelajar jika dalam bertutur menyelipkan istilah asing."

Kaidah-kaidah kebahasaan yang telah diluncurkan oleh Pusat Bahasa, seperti Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), atau Pedoman Umum Pembentukan Istilah Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang diharapkan menjadi acuan normatif masyarakat dalam berbahasa, tampaknya tidak pernah mendapat perhatian dari masyarakat.

Persoalan kebahasaan seolah-olah hanya menjadi urusan para ahli bahasa, pemerhati, dan peminat masalah kebahasaan. Sementara masyarakat menganggap bahwa kaidah bahasa hanya akan membuat suasana komunikasi menjadi kaku dan tidak komunikatif.

Sementara itu, Surati seorang guru SD di Batang mengatakan, bahasa akan terbina dengan baik apabila sejak dini anak-anak dilatih dan dibina secara serius dan intensif. Dan seharusnya kurikulum yang ada di sekolah dasar perlu dilakukan pembenahan.

Ia juga menyayangkan, selama ini pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah hanya menjadi semacam syarat. Murid tidak memahami secara mendalam tentang tata cara dalam berbahasa yang sesungguhnya. Yang mereka coba raih hanyalah nilai yang bagus, karena mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang menjadi syarat kelulusan.

Hal semacam ini harus segera dibenahi, terutama menuntut perhatian yang serius dari Pemerintah dan juga dari pihak sekolah selaku pelaksana formal. Dengan mencanangkan kurikulum yang dapat merangsang minat pelajar untuk serius dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Peran media televisi yang demikian akrab dengan dunia anak juga sangat penting, yaitu harus mampu memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik, bukan malah melakukan ?perusakan? bahasa melalui ejaan, kosakata, maupun tata bahasa seperti yang banyak kita saksikan selama ini, kata Tommi.

Dengan begitu bahasa Indonesia bukan hanya menjadi kepentingan beberapa pihak saja, tetapi juga menjadi kepentingan semua pihak dengan tetap menjadikan bahasa Indonesia sebagai jatidiri bangsa yang berbudaya.

Apalagi bahasa Indonesia merupakan bagian panjang dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, dan mempunyai peranan besar terhadap bangsa ini, baik di masa penjajahan, masa kemerdekaan, maupun masa sekarang.

Bahasa Indonesia memiliki keindahan yang tidak jauh kalahnya dengan bahasa-bahasa lainnya di dunia. Bahasa Indonesia memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada sejarah Republik Indonesia itu sendiri.

Bahasa Indonesia muncul karena tekad pemuda yang kuat dalam mempersatukan bangsa, dan bahasa ini juga mampu menyatukan sekaligus membuat bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya, katanya.(ANT)

Kebanggan Terhadap Bahasa Indonesia Menurun


Selasa, 28 Oktober 2008 | 20:44 WIB

JAKARTA, SELASA - Perilaku berbahasa masyarakat selama ini kurang menempatkan bahasa nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Rasa bangga terhadap bahasa Indonesia yang telah menempatkan bahasa itu sebagai lambang jati diri bangsa Indonesia telah menurun. Masyarakat memilih penggunaan bahasa a sing atau bahasa daerah yang tidak pada tempatnya.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengemukakan hal itu di hadapan 1.100 peserta Kongres IX Bahasa Indonesia, Selasa (28/10) di Jakarta. Negara-negara maju, seperti Jerman dan Jepang, membangun bangsanya melalui politik identitas, walau negaranya hancur lebur akibat perang.

"Jepang membangun jati dirinya melalui pengutamaan penggunaan bahasa Jepang, seperti penerjemahan semua literatur asing dalam bahasa Jepang. Semangat dan sikap Jerman ditunjukkan pada kecintaan pada bahasanya," katanya .

Kongres IX Bahasa Indonesia merupakan forum pertemuan pakar bahasa dan sastra, budayawan, tokoh, pejabat negara, guru dan dosen, mahasiswa, dan pencinta bahasa Indonesia. Bahkan, Kongres yang akan menampilkan 105 makalah hingga tanggal 31 Oktober 2008 ini, kali ini juga melibatkan pakar berbagai bidang ilmu dan para penyelenggara pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing dari seluruh dunia. Forum ini mengangkat persoalan peran bahasa dan sastra dalam membangun insan Indonesia yang cerdas, bermutu, dan berdaya saing, baik lokal, nasional maupun global.

Dalam prosesi pembukaan Kongres, sastrawan Rendra membacakan puisi Kesaksian Akhir Abad. Rendra dalam bait-bait puisinya masih mempertanyakan perihal kemerdekaan. Kemudian pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI kepada antara lain sastrawan Hamsad Rangkuti atas karya cerpen dalam kumpulan Bibir dalam Pispot dan sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda atas kumpulan puisinya Ciuman Pertama untuk Tuhan. Operet Gebyar 80 Tahun Sumpah Pemuda oleh Teater Tanai Air pimpinan Yose Rizal Manua, dan musikaliasi puisi oleh Ari dan Reda.

Mendiknas Bambang Sudibyo mempertanyakan, mengapa bangsa yang telah membangun diri melalui politik identitas jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan (sekarang berusia 80 tahun) tidak juga membawa kemajuan dalam bidang perekonomian kita. "Adakah kondisi ini disebabkan kekurangyakinan kita pada identitas keindonesiaan yang telah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda itu? Akibatnya, derap langkah kita dalam membangun keindonesiaan kurang terarah karena kurang percaya diri. Indikasinya, kurang menempatkan bahasa nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri."

Pembangunan bangsa melalui politik identitas bukan berarti kita anti terhadap identitas bangsa lain, Bambang menegaskan. Penempatan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dalam Undang-undang Dasar Negara Kesatuan RI 1945 telah menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu dan bahasa media massa, serta bahasa pengantar dalam pelaksanaan pendidikan anak bangsa.

Hal ini dipertegas kembali dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan nasional. Kongres Bahasa Indonesia yang dinilai sangat strategis, diharapkan Mendiknas dapat membahas berbagai masalah kebahasaan dan kesastraan terkait dengan berbagai perubahan dan perkembangan yang terjadi. Kongres juga diharapkan dapat merumuskan berbagai langkah strategis untuk terus mengembangkan bahasa Indonesia untuk berbagai keperluan masyarakat pendukungnya dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

"Di samping itu juga dapat merumuskan strategi peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia di berbagai kalangan masyarakat, terutama di kalangan pendidikan anak bangsa untuk menghasilkan lulusan yang cerdas dan berdaya saing serta mandiri," papar Bambang Sudibyo. (Sumber : www.kompas.com)

Bahasa Indonesia Pasca-Soeharto Terdesak Bahasa Lain

Seorang anak dengan pakaian seragam lengkap Pramuka memberi hormat sambil membawa bendera Merah Putih (kompas/Agus Susanto).

Senin, 15 Desember 2008 | 09:51 WIB

JAKARTA, SENIN — Bahasa Indonesia pascakepemimpinan Presiden Soeharto mengalami perubahan yang luar biasa. Hal ini terlihat dari pemakaian bahasa daerah dan bahasa asing non-Inggris pada ruang publik.

Prof Dr Mikihiro Moriyama, dosen bahasa Indonesia pada Nanzan University di Nagoya, Jepang, mengemukakan pendapat tersebut dalam diskusi bertajuk "Bahasa Indonesia Pasca-Soeharto" yang diselenggarakan Newseum Indonesia di Jakarta, Minggu (14/12) sore.

Menurut Prof Moriyama, semasa pemerintahan Orde Baru di Indonesia seperti terdapat pembagian, yaitu hanya bahasa Indonesia yang resmi digunakan untuk bahasa di ruang publik, sedangkan bahasa asing hanya bahasa Inggris.

"Namun, sekarang di media massa, khususnya televisi, kita bisa mendengar berita dalam bahasa Jawa, Sunda, juga bahasa Mandarin, padahal dulu semasa Orba bahasa Mandarin tidak diperkenankan digunakan di ruang publik," katanya.

Untuk bahasa daerah, pada masa Orba pemakaiannya terbatas pada wilayah "aman", dalam arti tidak digunakan untuk pemakaian bahasa politik dan ideologi, melainkan hanya pada ranah budaya, seperti untuk pertunjukkan kesenian daerah.

"Pergeseran munculnya bahasa daerah ke ruang publik secara lebih luas juga terjadi seiring dengan pertumbuhan otonomi daerah," tuturnya.

Prof Moriyama juga mengemukakan bahwa bahasa Indonesia bukan saja mendapat tekanan dari daerah dengan menguatnya pemakaian bahasa daerah belaka, tetapi juga menghadapi tekanan globalisasi bahasa yang luar biasa, khususnya dari bahasa Inggris.

"Desakan bahasa Inggris ini bukan hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga negara-negara lain sehingga belakangan juga terjadi reaksi dari berbagai negara untuk melawan gejala tersebut," kata Moriyama yang kemudian tergerak melakukan penelitian mengenai apa yang disebutnya sebagai "Imperialisme Bahasa Inggris".

Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Newseum Indonesia itu tampil pula Taufik Rahzen dari lembaga tersebut dan TD Asmadi, Ketua Forum Bahasa Media Massa.

Taufik Rahzen mengemukakan bahwa dalam perkembangan mendatang, bangsa Indonesia sebaiknya lebih memperhatikan dan menampung pertumbuhan bahasa dari berbagai kelompok masyarakat, ketimbang sibuk membahas kosa kata lama.

"Bahasa adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri, tumbuh dari berbagai bidang, etnis, dan daerah/ Pusat Bahasa seharusnya menampung munculnya kosa kata baru untuk memperkaya bahasa Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, TD Asmadi antara lain memperhatikan pergeseran bahasa pasca-Soeharto, yaitu dengan dihapusnya sejumlah nama tempat dan ruang yang tadinya memakai bahasa Sansekerta menjadi bahasa Indonesia. Selain itu juga kerancuan pemakaian bahasa Indonesia dan Inggris. (sumber : www.kompas.com)